Roti Buaya, Mitos Kesetiaan, dan Jejak Kolonialisme

Bukan hanya sekedar roti, roti buaya khas Betawi telah menjadi sombol dengan makna yang dalam. Makna berkembang sejak zaman penjajahan Belanda.

Roti buaya merupakan salah satu kuliner yang cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia. Roti buaya dikenal sebagai kuliner khas masyarakat Betawi yang mendiami Jakarta dan beberapa kota di Jawa Barat. 

Sebagaimana roti pada umumnya, cara dan bahan pembuatan roti buaya hampir tidak ada bedanya, kecuali dalam hal bentuk. Sesuai dengan namanya, roti ini berbentuk buaya dengan ukuran yang beragam, antara 50 cm-100 cm.

Simbol dan Mitos Roti Buaya

Roti buaya, selain hadir sebagai kudapan yang lezat, juga hadir sebagai sebuah tradisi. Bagi masyarakat Betawi, tradisi roti buaya merupakan sebuah prasyarat dalam acara pernikahan adat Betawi. 

Roti buaya harus dibawa oleh mempelai pria dalam seserahan. Roti buaya adalah sebentuk simbol kesetiaan. Roti buaya merupakan lambang syahadat seorang pria kepada calon istri, bahwa ia akan setia hingga akhir usia. 

Roti buaya dianggap sebagai simbol kesetiaan, sebab buaya merupakan salah satu hewan yang monogami alias dalam seumur hidupnya hanya kawin sekali. Roti buaya adalah sebuah doa sekaligus pengharapan, agar kesetiaan sang buaya dapat mengilhami pasangan suami istri yang telah diikat dalam suatu ikatan sakral bernama pernikahan.

roti buaya betawi
roti buaya untuk seserahan acara pernikahan / Foto : shopback.co.id

Menurut beberapa pendapat sejarawan, simbol buaya masuk ke dalam dunia mitos Betawi diduga karena mendapat pengaruh kuat dari kebudayaan Dayak dan Melayu Kalimantan Barat. Alkisah, Mahatara adalah Dewa utama orang Dayak. Mahatara memiliki tujuh putri yang disebut dewi-dewi Santang dan seorang putra yang bernama Jata. Si Jata ini wajahnya merah dan kepalanya berbentuk kepala buaya.

Berdasarkan mitos itu, orang Dayak menganggap buaya adalah hewan suci karena dianggap penjelmaan dari Jata. Orang Dayak tidak membunuh buaya kecuali warganya ada yang ditelan buaya. Namun, lambat laun terjadi pergeseran pemahaman terhadap simbol buaya ketika masuk ke dalam dunia mitos Betawi. Orang Betawi tidak menyucikan buaya sebagai hewan yang maujud, melainkan buaya siluman yang berwarna putih.

Buaya-buaya siluman oleh masyarakat Betawi dianggap sebagai penunggu sebuah entuk atau sumber mata air. Oleh karena itu, pada zaman dahulu apabila ada tindakan anggota atau sekelompok masyarakat yang mengganggu kebersihan atau pun ketertiban entuk, maka akan diberikan sanksi.

Karena buaya telah setia menunggu sumber mata air sekaligus sumber kehidupan masyarakat, maka buaya kemudian dianggap sebagai simbol kehidupan. Selanjutnya, guna melestarikan simbol kehidupan ini, masyarakat Betawi kemudian mengabadikannya lewat tradisi seserahan dengan menggunakan roti buaya.

Ditilik secara historis, ternyata roti buaya juga merupakan jejak yang ditinggalkan bangsa kolonial. Dahulu kata, tradisi roti buaya bukan dikenal dari rotinya, melainkan hanya buayanya. Sebelum mengenal roti, masyarakat Betawi menggunakan kayu, daun kelapa, dan kemudian kue untuk dapat dibentuk menjadi buaya. Simbol buaya ini nanti akan diletakkan di depan rumah sebagai tanda bahwa sang wanita sudah dinikahi oleh seorang pria.

Roti sendiri bisa dikenal dan dibuat oleh masyarakat ketika pemerintahan Belanda membawa alat pembuat roti yang dapat dibentuk dengan berbagai macam bentuk sesuai dengan keinginan. Sejak momen itulah kemudian masyarakat Betawi memanfaatkan teknologi tersebut menjadi roti berbentuk buaya yang selalu ada dalam setiap seserahan pernikahan adat Betawi.

Terlepas dari itu semua, bila kita kembali pada pembahasan tentang nilai kesetiaan yang hadir di masyarakat Betawi melalui roti buaya, itu bukan berarti nilai kesetiaan dapat dihegemoni oleh masyarakat Betawi saja. Toh, faktanya saya yang orang Jawa Timur saja bisa setia. Ya, kan?

Terbaru

Artikel Terkait