soto kudus
Semangkuk soto kudus / Foto : Shutterstock

Siapa yang suka dengan soto? Hampir seluruh orang Indonesia suka dengan makanan tradisional ini. Hal ini terbukti dengan 70 jenis soto yang tersebar di Indonesia. Setiap daerah memiliki ciri khas soto yang berbeda. Ada yang menggunakan kuah kaldu bening, kuah kuning hingga kuah yang dicampur santan atau susu. 

Namun apakah benar soto adalah masakan asli Indonesia? Apakah terdapat pengaruh negara lain dalam terciptanya resep-resep soto? Yuk jelajahi dari mana asalnya soto, bagaimana persebarannya di Indonesia hingga aneka macamnya. 

Cerita Dibalik Kelezatan Soto Nusantara

Banyak simpang siur hingga kini dari mana soto berasal. Hal ini dikarenakan tidak ada catatan atau bukti nyata bahwa soto adalah makanan khas yang berasal dari daerah di Indonesia sejak dahulu. Tidak dapat dipungkiri berbagai macam jenis soto ini berasal dari akulturasi budaya asing dengan Indonesia. 

makanan soto
Pedagang menuang kuah soto | Foto: Shutterstock

Menurut buku Denys Lombard dalam buku Nusa Jawa : Silang Budaya di jilid II diungkapkan bahwa soto adalah makanan Cina bernama caudo atau jao to. Pernyataan tersebut kemudian diperkuat dengan penelitian Ary Budiyanto dan Intan Kusuma yang berjudul ‘Menyantap Soto Melacak Jao To’. 

Menurut penelitian tersebut, soto merupakan makanan yang berasal dari Cina dengan sebutan cau do, jao to, atau chau tu. Arti dari nama tersebut adalah jeroan dan rempah-rempah. Soto pertama kali diperkenalkan pada awal abad ke 19 di pesisir pantai utara Jawa. Bentuknya adalah makanan berkuah yang didalamnya terdapat potongan daging dan jeroan. 

Diungkapkan juga dalam buku Nusa Jawa bahwa pada abad ke 18, telah banyak imigran Cina yang datang ke pesisir utara Jawa. Mereka membuka banyak rumah makan sebagai usaha. Meningkatnya jumlah imigran dari Cina membuat mereka akhirnya mendominasi saat itu. 

Pada saat inilah jao to mulai diperkenalkan kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan orang Cina yang sering menggunakan daging babi dalam jao to kemudian diubah. Menyesuaikan dengan masyarakat yang sudah banyak beragama islam, maka isian jao to dirubah menjadi daging sapi, kerbau dan juga ayam. 

Soto berkembang di Nusantara tepat ketika penjajahan Belanda berlangsung. Rakyat selalu mengkonsumsi soto yang memiliki isian dari jeroan, dan pantang masuk ke dapur Belanda. Alasannya adalah jeroan, bagi penjajah jeroan bukanlah makanan yang dapat dikonsumsi.

Para bangsawan Belanda menganggap jeroan adalah makanan yang tidak sehat bahkan higienis. Sehingga hanya rakyat jelata saja yang mengkonsumsi soto sebagai makanan sehari-hari. Bahkan kala itu, rakyat tidak menggunakan sendok untuk mengkonsumsinya. 

babat soto
Babat untuk isian soto / Foto : Shutterstock

Ada berbagai jeroan sapi yang dimasukan ke dalam soto seperti babat dan iso. Jeroan menjadi isi dari soto karena harga daging kala itu sangatlah mahal, sehingga hanya jeroan saja yang terjangkau. 

Disisi lain ada pula yang meyakini bahwa soto bukanlah dari Cina namun berasal dari India. Alasannya adalah perbandingan cita rasa jau to yang berasal dari Cina tidak mirip dengan rempah-rempah seperti yang ada pada soto saat ini. Masakan Cina biasanya tidak menggunakan banyak rempah namun lebih banyak memanfaatkan minyak. 

Baca juga:   Mengupas Makna Syukur di Balik Selongsong Nasi Jaha

Mengapa India dipercaya sebagai asal mula soto? Hal ini dilihat dari jenis soto Madura yang mirip dengan Sothi Madurai.  Sothi adalah sup kare ringan berasal dari Madurai,Tamil Nadu. Perbedaan utama antara soto Madura dengan Sothi Madurai adalah bahan utamanya yaitu daging. 

Orang India tidak menggunakan daging sapi seperti yang ada dalam soto Madura. Melainkan menggunakan sayuran atau ikan. Sothi juga dijual banyak di Malaysia saat ini dengan isian ikan sehingga nama makanan ini disebut Fish Sothi

Aneka Macam Soto Di Indonesia

Apabila di total varian soto dari masing-masing daerah bisa mencapai 70 jenis. Perbedaan rasa soto hingga penyebutannya juga merupakan perkembangan dari resep aslinya baik itu yang berasal dari Cina atau India. Walaupun belum ada gambaran bagaimana resep asli Jao To, tapi hasil perkembangannya bisa dinikmati saat ini. 

Jadi apa saja jenis-jenis soto yang terkenal dan banyak dikonsumsi di Indonesia? Inilah persebaran soto Nusantara:

  • Coto Madura

Persebaran soto tidak hanya di Jawa saja namun sudah sampai ke Sulawesi tepatnya di Makassar. Karena perbedaan penyebutan maka soto di sana disebut sebagai coto. Coto Makassar menggunakan kuah kaldu daging sapi yang dimasak bersama air cucian beras untuk mendapatkan rasa gurih. 

coto makassar
Coto Makassar / Foto : Shutterstock

Warna soto cenderung coklat dan tidak dikonsumsi bersama nasi tetapi diganti dengan buras atau ketupat. Buras sejenis ketupat yang dibungkus dengan daun pisang dan rasanya lebih gurih. Kuah coto terasa sangat kuat rempahnya dibandingkan soto di Jawa dan menggunakan isian jeroan daging sapi. 

  • Soto Lamongan

Soto yang sangat terkenal dengan kuah berwarna kuning kuning karena menggunakan kunyit. Rasanya juga berbeda dengan coto Makassar karena menggunakan kaldu ayam. Berbagai daging ayam atau jeroan ayam juga digunakan sebagai isian. 

Ciri khas dari soto Lamongan adalah bubuk koya yang terbuat dari kerupuk udang dan bawang putih goreng yang ditumbuh. Soto Lamongan terkenal di hampir seluruh wilayah Jawa Timur. 

  • Soto Kudus

Soto Kudus sesuai namanya berasal dari Kudus, berbeda dengan dua soto sebelumnya. Kuah dari soto Kudus bening dan terbuat dari kaldu ayam dengan isian daging kerbau atau ayam. Soto Kudus tidak menggunakan daging babi karena saat penyebarannya menghormati umat Hindu yang tidak mengkonsumsi daging sapi. 

soto kudus
Semangkuk soto kudus / Foto : Shutterstock

Biasanya soto ini disajikan dengan bawang putih goreng. Soto Kudus tidak jauh berbeda dengan soto Semarang dan juga Yogyakarta karena sama-sama berkuah bening. Hanya saja, untuk soto dari Yogyakarta menggunakan tambahan lenthuk yang terbuat dari singkong. 

  • Soto Sokaraja

Berasal dari kota Sokaraja yang dekat dengan Purwokerto, yang khas dari soto ini adalah menggunakan ketupat. Kuah soto sendiri bening dan biasanya disajikan bersama sambel kacang. Kuahnya dibuat dari daging sapi atau ayam tergantung dengan jenis daging sebagai isian yang digunakan. 

  •  Soto Tauco

Soto ini tergolong sangat unik karena menggunakan tauco dan berasal dari Pekalongan. Bagi penggemar tauco maka soto dari Pekalongan ini adalah pilihan yang tepat. Kuah dibuat dari dua jenis yaitu sapi atau ayam. Bagi yang tidak terbiasa mengkonsumsi tauco bisa memesannya secara terpisah. 

Baca juga:   Kesengsem Nikmatnya Terasi Lasem
soto pekalongan
Soto tauco dari Pekalongan / Foto : Shutterstock
  • Soto Betawi

Ada dua jenis kuah yang biasa dibuat pada soto betawi yang akrab disebut ‘sobet’. Pertama kuah kaldu sapi yang dicampur susu, kedua kuah kaldu sapi yang dicampur dengan santan. Isian dari sobet adalah daging sapi dan juga jeroannya. Rempah dari sobet lebih kuat dibandingkan soto dengan kuah bening atau soto Lamongan. 

Susu yang digunakan untuk mengeluarkan rasa gurih adalah susu kambing. Pelengkap dari sobet adalah emping dan juga acar timun. Selain sobet, jenis soto lain yang juga menggunakan kuah santan adalah soto Medan. Hanya saja pendamping soto Medan adalah kerupuk merah. 

  • Soto Padang

Salah satu soto yang juga berasal dari Sumatera, tidak menggunakan susu atau santan namun hanya kaldu daging sapi. Soto Padang sendiri memiliki kuah bening dengan rempah yang sama seperti sobet jadi rasanya akan sangat berbeda. 

soto Padanga
Soto khas Padang / Foto : Shutterstock

Daging sapi yang menjadi isian juga digoreng terlebih dahulu sebelum disajikan. Cara memakan soto ini adalah menggunakan nasi. 

Masih ada banyak lagi varian soto di Indonesia seperti soto seger Boyolali, soto Banjar, soto Mie Bogor hingga soto Bandung. Perbedaan yang paling besar adalah jenis rempah dan penggunaan santan, kunyit atau kuah kaldu asli.