Kompas dan peta

Para penjajah Belanda telah mengarungi samudra dengan kapal. Tanpa hidangan yang lezat mereka tidak mampu bertahan.

Dr. Strehler, seorang dokter Jerman pada masa penjajahan Belanda, berhasil menerbitkan buku berisi catatan harian perjalanannya di sebuah kapal Belanda yang menuju Hindia Belanda (Indonesia). 

Dr. Strehler diterima sebagai tenaga medis kapal pada tahun 1828. Dalam pelayarannya yang berbulan-bulan itu, ia menceritakan perjalanannya.

Salah satunya bagian dari buku dr. Strehler berisi ulasan berbagai macam masakan yang dihidangkan di dalam kapal penjajah itu.

Menilik Hidangan Kapal Para Penjajah

Ruangan kapal
Ilustrasi ruangan makan kapal penjajah / Foto : Shutterstock

Menurut catatan dr. Strehler, makanan yang dihidangkan di kapal berbeda dengan yang dihidangkan di darat. Olahannya tidak terlalu bervariasi. Keterbatasan ruang di kapal tidak memungkinkan untuk membawa banyak binatang untuk disembelih selama perjalanan.

Binatang yang dibawa berlayar hanya beberapa ekor babi dan beberapa ratus unggas. Tetapi banyak bebek, angsa dan ayam yang ikut berlayar menjadi kurus dan mati sebelum sempat dimasak.

Di kapal disediakan daging sapi dan babi yang diolah dengan berbagai cara: diasap, diasinkan atau direndam cuka asam-manis. Ada pula sosis besar dan kecil. Sedangkan, aneka ragam buah dan sayuran diolah terlebih dahulu supaya tahan lama. Berbagai jenis sayur seperti: kacang-kacangan, timun, wortel, bawang, kol biasanya direbus atau dikeringkan. Bahan-bahan disimpan di stoples gelas.

Tentu awak kapal tak lupa mambawa bahan pokok yang paling digemari yaitu kentang. Berkarung-karung kentang segar dan kentang olahan dibawa dari Eropa. Untuk variasi dibawa juga beras dan gandum. Selain itu, juga tersedia buah-buah yang dikeringkan seperti plum, apel, kismis, bermacam bumbu-bumbuuan, selai, roti kering, mentega dan keju.

Pagi-pagi, ketika penumpang bangun tidur, disediakan kopi panas. Kopi dapat diminum dengan gula, tetapi tidak disediakan susu. Santapan pagi dimulai pukul sembilan. Disediakan roti kering dan roti yang baru keluar oven, mentega, dan keju. Santapan pagi dinikmati denggan teh tanpa susu, bir (selama masih ada persediaan) atau anggur, yang biasanya dibawa sendiri-sendiri.

hidangan kapal
Daging yang diasap agar awet / Foto : Shutterstock

Untuk variasi agar tidak bosan, santapan pagi kadang menyediakan daging babi asap, lidah asap atau sosis salami. Pada hari minggu, dihidangkan iga babi panggang. Nasi dan bubur gandum juga dimasak sebagai selingan pengganti roti. Dalam perjalan pulang ke Eropa, biasanya awak kapal membawa persediaan saus kacang dari Jawa. 

Tengah hari pukul 12.00 adalah waktu yang tepat untuk beristirahat minum-minum. Cuaca terik pada siang hari dapat membuat tenggorokan kering dan merusak selera makan. Penumpang biasanya meminum segelas jenever yang dicampur beberapa tetes obat sakit perut

Ada juga arak yang biasa dibawa dari Batavia. Bagi para penumpang, arak merupakan minuman yang paling sakti. Arak dapat menghilangkan haus, menguatkan perut dan usus, dan membangkitkan nafsu makan.

Setelah minum dan mengobrol sebentar, biasanya para penumpang menghilang ke bilik masing-masing untuk beristirahat.

Barulah setelah istirahat santapan siang dihidangkan. Setiap hari disediakan dua jenis hidangan yang terbuat dari daging dan dua jenis sayuran. Tentu saja setiap hari tersedia kentang. Ayam-ayam yang dibawa digunakan untuk membuat sup yang dicamur makaroni. 

Baca juga:   Nasi Jinggo, Simbol Kesederhanaan nan Merakyat

Pada hari-hari lain, dihidangkan sup kacang, nasi dan juga panekuk. Pada awal perjalanan, disediakan buah-buah-buah segar sesuai musim untuk pencuci mulut.

Jam lima sore, awak kapal menyediakan teh untuk diminum. Teh biasanya dihabiskan sambil duduk-duduk mengobrol dengan penumpang lain di geladak. Bila cuaca cukup cerah, acara minum teh berlangsung sampai matahari tenggelam dan lautan menjadi gelap.

Malam hari, suasana di kapal terlihat seperti balai pertemuan. Oang-orang bermain kartu sambil mengobrol ditemani segelas anggur dan makanan ringan. Malam hari kondisi menjadi ramai dan semarak. Kadang, beberapa orang bernyanyi bersama mendendangkan lagu sambil mengangkat gelas-gelas mereka.

Bila malam semakin larut, beberapa penumpang akan pergi ke ruang baca, beberapa yang lain hanya berjalan-jalan di sekitar geladak. Sehabis itu, setelah bosan dan letih, para penumpang akan kembali ke bilik tidurnya masing-masing dan memejamkan mata.