Nasi Jinggo, Simbol Kesederhanaan nan Merakyat

Nasi Jinggo khas Bali mirip seperti nasi rames di Jawa. Isian sederhana seperti suwiran ayam, tumis kacang panjang dan telur, merupakan simbol kesedarhnaan.

Mengenal Bali dan kemagisan yang tercakup di dalamnya tak lengkap tanpa menikmati sajian-sajian kulinernya. Kuliner-kuliner itu memang tak bisa dipisahkan dari ritual adat dan kegiatan keagamaan yang sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Bali. 

Beberapa sajian kuliner tersebut disajikan di saat-saat tertentu. Namun, ada pula yang diperjualbelikan setiap harinya demi mengisi pundi-pundi penghasilan masyarakat, seperti Nasi Jinggo.

Bagi Anda yang kebetulan merayakan nyepi atau berlibur ke Pulau Dewata, tak ada salahnya mencoba Nasi Jinggo khas Bali ini. 

Nasi Jinggo atau yang juga dikenal dengan sebutan Nasi Jenggo merupakan salah satu makanan siap saji khas Bali yang dibungkus dengan daun pisang dan dalam porsi kecil. Sekilas saat melihat tampilannya, warga Jogja akan teringat dengan nasi kucing khas angkringan. 

isi nasi jinggo
Isian nasi Jinggo / Foto : Shutterstock

Namun, ketika bungkus dibuka, pemandangan semacam suwiran ayam atau daging, potongan tempe kecil-kecil, serundeng, dan sambal akan menggelitik nafsu makan penikmatnya.

Berbeda halnya dengan nasi kucing, yang khas dengan sambel terinya, Nasi Jinggo lebih populer dengan sambal Bali yang siap membuat lidah Anda terbakar hebat! Selain itu, Nasi Jinggo dibungkus berbentuk kerucut lancip.

Bagaimana Nasi Jinggo Terbentuk?

Tidak ada catatan sejarah atau pun dokumentasi lainnya terkait asal mula Nasi Jinggo. Seperti halnya kebudayaan khas Indonesia yang lain, asal usul Nasi Jinggo diketahui dan diwariskan dari mulut ke mulut. Beberapa versi juga bermunculan, menambah daftar referensi asal usul Nasi Jinggo yang legendaris ini. 

Versi pertama turut menyumbang nama bagi panganan ini. Dalam bahasa Hokkien, jeng go berarti ‘seribu lima ratus’. Nah, sebelum krismon di penghujung tahun 1997, nasi jinggo dijual per porsi seharga Rp.1.500,00. Maka tak heran apabila makanan ini dinamakan nasi jenggo atau jinggo. 

Masyarakat Bali meyakini bahwa nasi jinggo pertama kali hadir di tahun 1980-an, tepatnya di Jalan Gadjah Mada, Denpasar. Nasi Jinggo ini dijual oleh Pak Jinggo dan istrinya, yang berjualan dari sore hingga malam. Kreasi mereka sangat disukai, hingga membuat beberapa penduduk tergerak menjual nasi jinggo serupa, bahkan hingga ke luar kota, seperti Kediri. 

Tidak jauh dari lokasi tersebut, berdiri Pasar Kumbasari yang beraktivitas selama dua puluh empat jam. Keberadaan penjual nasi jinggo ini turut menyelamatkan para pedagang dari kelaparan.

Tak hanya itu, beberapa pengendara motor asli Bali yang sering disebut “jagoan” turut menjadi pelanggan setia nasi campur ini, sehabis mengadakan plesir malam. Sehingga lambat laun, nasi campur ini dinamakan nasi jenggo atau jinggo, yang berasal dari kata ‘jagoan’ dan nama pemilik warung nasi tersebut

Sehingga lambat laun, nasi campur ini dinamakan nasi jenggo atau jinggo, yang berasal dari kata ‘jagoan’ dan nama pemilik warung nasi tersebut

Versi ketiga menerangkan bahwa asal mula kata jinggo berawal dari kepopuleran sebuah film berjudul “Djanggo” pada masa itu. Namun, tidak banyak yang mengiyakan versi ketiga ini. 

bungkus nasi jinggo
Bentuk bungkusan nasi jinggo / Foto : Shutterstock

Nasi Jinggo Menurut Orang Bali

Masyarakat Bali lebih mengimani pencatutan nama ‘nasi jinggo’ berasal dari ‘jeng go’ yang berarti seribu lima ratus, dan dijual pertama kali oleh Pak Jinggo di Jalan Gadjah Mada, Denpasar pada tahun 1980-an.

Kondangnya cita rasa nasi bungkus sederhana ini tak hanya melambung di langit-langit pulau Dewata. Terbukti, di beberapa daerah seperti Kediri dan Yogyakarta, makanan ini pun muncul sebagai menu sarapan yang tak boleh dilewatkan.

Kini, seiring berjalannya waktu, Nasi Jinggo mulai dikreasikan dalam bentuk yang lebih menarik dan dapat ditemui di seluruh sudut Pulau Bali. Sejurus dengan melambungnya harga bahan baku, harga nasi Jinggo pum ikut naik, yakni Rp.3.000,00-Rp.10.000,00 tergantung porsi yang disajikan. 

Beberapa resto ternama di Pulau Dewata bahkan mengaransemen tampilan Nasi Jinggo menjadi sajian berkelas dan menjualnya dengan harga yang tinggi.

Namun tak perlu ragu, sebab cita rasa makanan ini akan tetap menarik bagi lidah penikmatnya, bagaimanapun bentuk kemasannya. Nah, tertarik mencoba? 

Terbaru

Artikel Terkait